Guntur Romli: Jangan Pilih Capres Pemarah, Bahaya!

Guntur Romli (Foto: Suara Nasional)
JAKARTA | Proporsi.id - Juru Bicara sekaligus Caleg DPR RI dari Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Mohamad Guntur Romli meminta agar masyarakat Indonesia tidak memilih Calon Presiden yang hobinya marah-marah.

Melalui akun twitter-nya @GunRomli, yang juga merupakan Tim Kampanye Nasional Jokowi-KH Ma'ruf Amin itu membuat dua buah cuitan sekaligus dalam kurun waktu yang hampir bersamaan, guna mendukung kampanye tagar #PrabowoPemarah, yang saat ini sedang menjadi trending topic di twitter.

Dalam kedua cuitannya tersebut, Guntur Romli turut melampirkan video, yang menampilkan Capres Prabowo Subianto sedang marah-marah, yang pertama kepada awak media sementara yang satunya kepada para ulama.

Berikut cuitan @GunRomli, yang langsung mendapatkan sahutan, baik dari pendukung maupun para lawan politiknya.



Berdasarkan penelusuran Proporsi.id, video yang menggambarkan Prabowo sedang marah-marah kepada ulama itu, sebagaimana disebut Guntur Romli itu adalah video lama, saat Capres 02 tersebut sedang berkampanye di Madura, pada bulan Februari 2019 lalu.

Bahkan Tuan rumah acara, KH Moh Yazid, telah mengklarifikasi kepada para wartawan sembari menceritakan apa yang sebenar terjadinya dalam video tersebut.

Kiai Yazid, yang berasal dari Pondok Pesantren (Ponpes) Assadad, Ambunten Timur, Sumenep, Madura, mengatakan saat itu posisinya sedang berdiri tepat di depan panggung. Sedangkan area di sekitar panggung diisi para relawan Prabowo.

"Saya kebetulan posisi saya persis berdiri, ketika beliau asyik sedang berpidato, sebetulnya bukan orang lain ya, itu relawan. Karena memang kita sterilkan di depan tangga masuk ke tempat (panggung) itu relawan semuanya," kata Kiai Yazid berkisah kepada detikcom, Rabu (27/2/2019).

Saat Prabowo berpidato, ada salah seorang relawan yang posisinya tak jauh dari Prabowo sedang berbicara. Suaranya pun cukup keras sehingga langsung terdengar oleh Prabowo, yang sedang berada di atas panggung.

"Nah kebetulan ada satu relawan yang sedang mengobrol kencang kedengeran sama Pak Prabowo," lanjut Kiai Yazid.

Kiai Yazid memastikan apa yang menjadi dugaan masyarakat bahwa Prabowo marah-marah itu salah besar. Pasalnya, dia tahu sendiri Prabowo hanya menegur dengan intonasi suara yang halus, tidak membentak.

Selain itu, ekspresi Prabowo saat menegur juga terlihat senyum-senyum. Kiai Yazid mengatakan tak melihat mimik marah-marah pada wajah Prabowo.

"Sebetulnya saya sih lihat judul di media-media itu kesannya kok marah, sebetulnya nggak marah sih ya. Menegur dan mimiknya saya tahu betul karena begitu memotong pidatonya, saya kaget, saya toleh ke beliau, nggak, beliau senyum-senyum aja," papar Kiai Yazid.

Sementara itu video yang dilampirkan @GunRomli dalam cuitannya satu lagi lebih kurang juga sama, yakni video yang sudah lama beredar sebelumnya dan sudah pernah diklarifikasi oleh kubu Capres 02 tersebut.

Sebagaimana diberitakan Tribunnews.com, Calon Presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto geram dengan pemberitaan sejumlah media massa di Indonesia.

Kegeraman tersebut ia sampaikan dalam pidato peringatan Hari Disabilitas Internasional di Hotel Grand Sahid, Jakarta, Rabu (5/11/2018).

Menurutnya, media massa atau pers telah berupaya memanipulasi demokrasi. Salah satu contohnya, soal pemberitaan reuni 212 yang menurutnya hanya sedkit media yang memberitakannya.

"Hebatnya media-media dengan nama besar dan katakan dirinya objektif, padahal justru mereka bagian dari usaha memanipulasi demokrasi. Kita bicara yang benar ya benar, yang salah ya salah, mereka mau katakan yang 11 juta hanya 15 ribu. Bahkan ada yang bilang kalau lebih dari 1.000 minta apa itu terserah dia," papar Prabowo Subianto.

Dengan kondisi tersebut, menurut Prabowo Subianto, wartawan dan media telah mengkhianati profesinya. Bahkan, menurut Prabowo Subianto, orang tersebut tidak berhak mendapatkan predikat jurnalis.

"Ada belasan juta mereka tidak mau melaporkan. Mereka telah mengkhianati tugas mereka sebagai wartawan. Mereka telah mengkhianati tugas mereka sebagai jurnalis. Saya katakan, hei media-media yang tidak mau mengatakan ada belasan juta orang atau minimal berapa juta orang di situ, kau sudah tidak berhak memandang predikat jurnalis lagi," tuturnya.

Tidak hanya saat pidato, Prabowo Subianto juga masih menunjukkan kegeramannya dengan tidak mau diwawancara seusai acara. Saat ditanya, Prabowo Subianto malah menanyakan balik perusahaan tempat wartawan itu bekerja.

"Untuk apa wawancara saya? Orang kemarin 11 juta kau bilang enggak ada orang. Kalau TV One boleh TV One. Nah, gimana TV One?" katanya sambil berjalan di eskalator hotel.

Prabowo Subianto mengatakan kegeramannya karena ada media massa yang menyebut jumlah peserta yang hadir dalam reuni 212 hanya 30 ribu orang. Hal tersebut, kata Prabowo Subianto, sangatlah tidak objekif.[]

Post a Comment

0 Comments